Uncategorized

Polisi Ringkus 7 Pelaku Prostitusi Online Buah Bawah Umur di Surabaya

Polrestabes Surabaya meringkus tujuh orang pelaku kasus prostitusi online anak di bawah umur di Kota Pahlawan. Ketujuh orang itu merupakan, YY, RS, AM, SS, RI, AS dan satu lagi anak laki-laki di bawah umur.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Hendro Sukmono, mengatakan ketujuh pelaku yang telah ditetapkan menjadi tersangka ini sbobet indonesia terancam Pasal 2 dan Pasal 17 UU No 21 tahun 2007 perihal Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang menghasilkan empat anak di bawah umur sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK).

Dan atau Pasal 88 dan Pasal 80 UU No 35 tahun 2014 perihal Perubahan kedua atas UU No. 23 tahun 2002 perihal Perlindungan Buah dan atau pasal 296 KUHP.

“Adapun ancaman hukumannya berhubungan pasal TPPO minimal 3 tahun, optimal 15 tahun. Untuk pasal perlindungan anak ancaman hukumannya minimal tiga tahun dan optimal sampai 10 tahun,” ujar Hendro, Selasa (14/5/2024).

Hendro menyebutkan, kasus prostitusi anak di bawah umur ini terkuak via laporan salah korban di Mapolrestabes Surabaya, dengan nomor LP:442/B/ VI/ RES.1.24/2024/SPKT/POLRESTABES SURABAYA/ POLDA JAWA TIMUR, Senin 6 Mei 2024.

Polisi pun melaksanakan penyelidikan dan sukses menangkap YY perempuan 24 tahun asal Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Dia dibekuk bersama enam anak buahnya, dan empat anak di bawah umur yang dijadikannya PSK.

“Tersangka YY sebagai muncikari dibantu enam tersangka lain sebagai bawahan yang bekerja sebagai admin atau joki dengan peran mencari tetamu via aplikasi,” sebut Hendro.

Hendro mangatakan, tersangka YY mengendalikan empat orang korban sebagai PSK sejak bulan Januari 2024. Mereka berasal dari Sumatera Selatan dan rata-rata masih berusia 15-17 tahun.

Dalam aksinya, YY memesan dua unit di apartemen B di Surabaya sebagai basecamp. Tiap harinya, sejak pukul 12.00 WIB, YY mendatangkan pakar make up untuk merias para korban. Lalu, sekitar pukul 14.00 WIB para tersangka dan korban mulai berpindah menuju hotel yang telah ditetapkan YY.

Setibanya di hotel, tersangka YY memesan lima kamar. Empat kamar diterapkan sebagai tempat untuk melayani tetamu, walaupun satu kamar lainnya diterapkan sebagai kantor para joki sebagai operator prostitusi online untuk mencari tetamu via aplikasi.

“Rata-rata masing-masing korban melayani 10-20 tetamu perhari, dengan jam operasional sejak pukul 15.00 – 03.00 WIB dini hari. Sesudah aktivitas selesai, mereka kembali ke apartemen B,” ujar Hendro.

Para Korban Tak Pernah Menerima Uang dari Hasil Kerjanya

Rata-rata tarif yang ditetapkan oleh tersangka YY kepada tetamu untuk menerima pelayanan dari para korban sekitar Rp300 ribu sampai Rp1,3 juta, tergantung perundingan antara joki para pelangganya.

“Tapi uang dari seluruh tetamu dikendalikan oleh YY, untuk para korban tidak pernah menerima hasil kerjanya. Tersangka YY senantiasa beralasan bahwa para korban masih mempunyai utang kepada tersangka YY untuk tarif akomodasi dari Sumsel ke Surabaya, dan tarif hidup sehari-hari,” sebut Hendro.

Sehingga, kata Hendro para korban dipaksa untuk terus bekerja guna melunasi utangnya kepada tersangka YY.

Anda mungkin juga suka...